Barcelona dan La Masia, kisah cinta yang terabaikan

Oleh

tanggal

Perubahan manajer bisa berarti perubahan sistem. Mungkin, pasca era Luis Enrique, Barca bisa kembali melirik jebolan La Masia, akademi sendiri.

Melihat penampilan Marlon Santos dalam laga kontra Las Palmas, mungkin ini sudah waktunya Barcelona kembali ke ‘dapur’ mereka sendiri. Hal sejak lama dilakukan oleh pelatih-pelatih, seperti Pep Guardiola, Frank Rijkaard, Louis Van Gaal atau juga Johan Cruyff.

Era kepemimpinan Guardiola, misalnya, dikenal lantaran ia berani menaruh kepercayaan kepada pemain-pemain jebolan La Masia, akademi sepakbola Barcelona sendiri. Ia pernah memasang delapan pemain jebolan akademi dalam satu pertandingan. Lihat pula bagaimana kesuksesan Sergio Busquets, atau Pedro Rodriguez yang kini membela Chelsea. Guardiola memberi mereka kesempatan, bahkan tak takut memasang keduanya di Stamford Bridge, Bernabeu, atau bahkan saat final Liga Champions melawan Manchester United.

Bersama Luis Enrique, Barcelona kehilangan sebagian dari identitasnya. Sang manajer lebih memilih merekrut pemain ketimbang mempromosikan pemain dari La Masia. Maka datanglah pemain-pemain, seperti Jeremy Mathieu, Arda Turan juga Lucas Digne. Terlepas dari kebijakan ini, adalah benar bahwa Enrique juga telah menunjukkan kesabarannya dalam mendidik pemain seperti Sergi Roberto dan Rafinha.

Tampilnya Marlon dalam laga melawan Las Palmas bisa jadi merupakan penanda terbukanya jendela bagi pemain-pemain baru jebolan akademi Barcelona. Beberapa pemain lain yang juga memiliki potensi untuk bergabung dengan skuad utama adalah Sergi Palencia dan Carles Alena.

Alena sendiri sudah sering dipanggil ke skuad utama di penghujung musim ini. Andres Iniesta sendiri mengatakan, “Kami harus menunggu para pemain didikan sendiri untuk diberi kesempatan.”



SPORTYOU